Ketahuilah, setiap getaran lembut di hatimu…
itulah panggilan-Nya.
Bukan sekadar emosi yang datang dan pergi,
tapi bisikan rahasia yang mengajakku—dan kamu—untuk pulang.
Saat engkau menangis tanpa tahu alasannya,
itulah air wudhu ruhani,
membasuh debu dunia dari hatimu yang lelah.
Dan jika dadamu sesak oleh cinta yang tak kau pahami,
mungkin itulah detik ketika Tuhan sedang mengetuk… dari dalam dirimu sendiri.
Apa pun yang membuatmu tergetar—meski hanya sekejap,
meski kecil, meski getir—
itu bisa jadi surat cinta dari-Nya,
yang ditulis dengan tinta tak terlihat oleh mata,
namun terasa jelas oleh hati yang terbuka.
Jangan anggap sepele air mata yang jatuh tiba-tiba,
ia bisa lebih suci dari seribu sujud tanpa hati.
Dan senyum yang muncul tanpa sebab,
mungkin itu cahaya-Nya yang singgah sekejap di wajahmu.
Tahukah engkau,
mengapa hati seorang pecinta bisa lebih agung dari Arasy-Nya?
Karena Singgasana hanya tempat,
sedang hati… adalah rumah di mana Dia menetap.
Di sanalah Ia bukan hanya hadir,
tapi juga berbicara, tertawa, menangis,
berjalan bersamamu, dan mencinta tanpa batas.
Jika engkau mencari Tuhan,
jangan hanya mendongak ke langit.
Lihatlah ke dadamu yang bergetar,
di sanalah Ia sedang menari… dalam sunyi.
Dan saat engkau mencintai-Nya tanpa syarat,
tanpa pamrih dan tanpa takut,
kau tak lagi mendamba surga,
karena hatimu telah menjelma surga itu sendiri.

Comments