- Get link
- X
- Other Apps
SANG 'AKU' DIJADIKAN DI DALAM RAHIM
Allah menjadikan manusia di dalam rahim.
Begitulah Al Qur'an bercerita tentang proses penciptaan makhluk yang menjadi khalifah di bumi.
Di dalam rahim seorang wanita itu Allah mempertemukan bibit ayah-ibunya.
Di dalam rahim itu pula Allah meniupkan ruh-Nya, sehingga terbentuk jiwa sebagai pelaku utama drama kemanusiaan.
Itulah sang 'aku' dalam diri seorang manusia.
'Aku' bukanlah badan, karena kalau badannya dipotong-potong pun 'aku' masih tetap ada.
*'Aku' juga bukanlah sang ruh, karena ruh adalah Dzat Ketuhanan.*
Sebagian dari Diri-Nya, yang ditiupkan ke dalam badan.
Sang 'aku' terbentuk di dalam rahim, bersamaan dengan terbentuknya badan.
Kalau badan adalah sruktur material - zat-zat organik biokimiawi, maka sang 'aku' terbentuk dari sturuktur energial, di mana kesadaran berada.
Badan & jiwa - sang 'aku' - bisa hidup karena diberi 'daya hidup' oleh Allah berupa ruh.
Daya hidup itulah MISTERI ABADI yang belum terpecahkan hingga kini.
Sedangkan jiwa sudah banyak dipelajari dalam bidang kedokteran jiwa, maupun psikologi.
Pemahaman antara jiwa & ruh ini memang masih membingungkan sejumlah kalangan.
Setidak-tidaknya ada dua pendapat besar.
Pendapat pertama menyamakan antara jiwa & ruh.
Sedangkan pendapat kedua, membedakan antara jiwa & ruh.
Kelompok yang pertama mengatakan bahwa: jiwa & ruh itu sama saja.
Sebelum masuk ke dalam badan disebut ruh, dan sesudah masuk ke dalam badan disebut sebagai jiwa.
Jadi jiwa adalah ruh yang malih rupa.
Artinya, kalau kita menyebut jiwa, itu sama saja dengan menyebut ruh.
Atau kadang kita sebut nyawa.
Kelompok yang kedua berbeda pendapat, mereka mengatakan bahwa jiwa & ruh itu adalah substansi yang berbeda.
Ada beberapa alasan yang mendasarinya.
Yang pertama, istilah jiwa & ruh di dalam Al Qur'an jelas-jelas dibedakan.
Istilah ruh hanya disebut sekitar 10x di dalam Al Qur'an.
Sedangkan istilah jiwa - tunggal maupun jamak - digunakan lebih dari 300x.
Yang kedua, ketika Allah bercerita tentang ruh maka Allah menambahkan *'peringatan' bahwa kita tidak akan bisa memahami substansi ruh itu lebih jauh, karena ruh adalah urusan Allah.*
Dan manusia hanya diberi ilmu sedikit tentangnya.
*Namun, ketika bercerita tentang jiwa, Allah justru mendorong kita untuk mempelajarinya.*
Sehingga sampai muncul disiplin Ilmu Jiwa - Psikiarti.
QS. Al Israa' (17): 85
Dan mereka bertanya kpdmu tentang ruh. Katakalah: "Ruh itu termasuk urusan Tuhanku, & tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit".
QS. Az Zumar (39): 42
Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya & (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; maka Dia tahanlah jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya & Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditentukan.
Sesungguhnya pada yang demikian itu TERDAPAT TANDA-TANDA kekuasaan Allah bagi kaum yang BEPIKIR.
*Yang ketiga, tidak ada cerita di dalam Al Qur'an bahwa ruh diciptakan oleh Allah.*
*Ruh, selalu dikatakan sebagai 'ditiupkan'* oleh Allah kepada badan manusia yang telah disempurnakan itu, Allah juga menyempurnakan jiwanya.
*Maka, ruh digambarkan sebagai substansi yang kualitasnya tidak berubah-berubah.*
Tidak membaik atau memburuk.
*Sedangkan jiwa digambarkan, ada jiwa yang baik & ada jiwa yang buruk.*
Kenapa demikian?
Sekali lagi, karena ruh adalah 'sebagian' dari substansi ketuhanan.
Sedangkan jiwa adalah makhluk baru yang diciptakan-Nya, bersamaan dengan penciptaan badan manusia di dalam rahim.
Berikut ini beberapa ayat-Nya.
QS. As Sajdah (32): 9
Kemudian Dia menyempurnakan & meniupkan ke dalam (tubuh)nya sebagian ruh-Nya & Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan, & hati: (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur.
QS. Nuh (71): 14
Padahal Dia sesungguhnya telah menciptakan kamu dalam beberapa tingkatan kejadian.
QS. Asy Syams (91): 7
Demi jiwa, serta proses penyempurnaannya.
Maka, jiwa & ruh sebenarnya adalah substansi yang berbeda.
Dalam ilmu kedokteran, Jiwa diistilahkan sebagai bioplasma alias tubuh energial.
Tubuh halus.
Dan perilaku serta karakteristiknya bisa dipelajari.
Bisa disembuhkan ketika sedang sakit.
Bisa diukur dengan parameter2 tertentu.
Sementara, yang namanya ruh adalah substansi yang misterius & sulit diukur, yang berada dibalik badan & jiwa sekaligus.
Pertanyaan- pertanyaan berikut ini adalah berkait erat dengan ruh, & sulit dijawab:
1, Darimana & bagaimana terjadinya 'daya hidup'
2, Darimana & bagaimana munculnya 'kehendak'
3, Darimana & bagaimana munculnya perasaan2 ingin berkuasa, kasih sayang, ikhlas, adil, sabar, sombong, dlsb, yang dalam kedokteran jiwa di sebut sebagai fungsi luhur?
Semua yang berkaitan dengan fungsi luhur itu adalah sifat2 yang berkaitan dengan sifat Allah yang ditularkan lewat ruh.
Dan kemudian membingkai fungsi jiwa & badan.
Diterjemahkan ke dalam proses2 yang lebih bisa diukur secara empirik.
Maka, sebenarnya 'ruh' adalah sang 'AKU' sedangkan 'jiwa' adalah sang 'aku'.
Ruh adalah pembawa sifat-sifat Dzat Tak Terbatas.
Sedangkan jiwa memiliki sifat-sifat yang sama, tetapi dalam bingkai serba terbatas.
Jiwa adalah derivasi ruh. Akan tetapi, jiwa tidak pernah menggantikan ruh.
Ruh tetap saja ada bersemayam di dalam tubuh kita.
Memayungi manusia yang terdiri dari badan & jiwa.
Agar bisa tetap hidup. Bisa tetap berkehendak. Bisa tetap memiliki segala keinginan & merasakan berbagai perasaan.
Lewat mekanisme biokimiawi badannya & bioplasma jiwanya.
Ruh adalah sifat-sifat ketuhanan yang menjadi sumber atas segala fungsi yang dimiliki manusia.
Seluruh sifat kemanusiaan adalah derivasi alias turunan sifat-sifat ruh.
Sedangkan ruh adalah derivasi alias turunan dari sifat-sifat Allah.
Kita tidak pernah tahu substansi ruh, apalagi Substansi Dzat Allah...
QS. Ruum (30): 30
Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah): fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu.
Tidak ada perubahan pada fitrah Allah.
(Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.
*Ayat di atas mengatakan bahwa Allah menciptakan manusia mengikuti fitrah-Nya.*
Sifat-sifat-Nya.
Tetapi manusia bukan Allah.
Dan Allah bukan manusia.
Manusia sekedar turunan alias derivasi Allah, dalam derajat tak berhingga kecilnya.
Allah menciptakan derivasi Dirinya dalam bentuk ayat-ayat alias 'tanda-tanda'.
Ya, sekedar 'tanda-tanda', yang menggiring kita kepada Sumber segala 'tanda-tanda' itu.
Seluruh realitas di alam semesta ini - termasuk diri kita ini - adalah 'tanda-tanda' keberadaan-Nya, Eksistensi-Nya.
QS. Ali Imran (3): 190-191
Sesungguhnya dalam penciptaan langit & bumi & silih bergantinya malam & siang terdapat TANDA-TANDA bagi orang2 yang BERAKAL.
(yaitu) orang2 yang MENGINGAT ALLAH sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring & mereka MEMIKIRKAN tentang penciptaan langit & bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia.
MAHA SUCI ENGKAU, maka peliharalah kami dari siksa neraka.
Karena itu kalau kita ingin sampai kepada Allah sebagai sumber dari segala tanda-tanda, kita disuruh untuk memikirkan tanda-tanda itu.
TAFAKURI alam semesta disekitar kita.
Juga TAFAKURI diri kita sendiri.
Maka kita pun bakal sampai kepada DIA, ALLAH AZZA WAJALLA....
QS. Adz Dzaariyaat (51): 20-21
Dan DI BUMI itu terdapat TANDA-TANDA (ayat-ayat) bagi orang yang yakin.
dan (juga) PADA DIRIMU SENDIRI.
Maka apakah kamu tiada memperhatikan?
Kembali kepada jiwa & ruh.
*Jiwa adalah tanda-tanda keberadaan Allah, karena itu kita disuruh memikirkannya.*
Sedangkan ruh sudah menjadi bagian dari Dzat-Nya, karena itu kita tidak bisa memikirkan substansinya.
Bahkan Allah sudah memberikan koridor, bahwa kita tidak akan bisa memahaminya karena ilmu yang diberikan kepada kita cuma sedikit.
Jadi, keberadaan manusia dimulai pada saat-saat awal penciptaannya.
Badan & jiwanya diciptakan Allah di dalam rahim seorang ibu.
Ruh Allah ditiupkan ke dalamnya, maka muncullah makhluk baru yang disebut manusia.
Dan, sejak itu, dimulailah perjalanan sang 'aku' di bawah 'bayang-bayang' sang "AKU"...
Sang 'aku' berjalan melintasi ruang & waktu. Terlahir ke dunia, dimatikan berpindah ke alam barzakh, dibangkitkan memasuki alam akhirat & akhirnya kembali kepada ketiadaan lagi - kembali kepada sang 'AKU' - hakikat sumber ruhnya sendiri , INNA LILLAHI WA INNA ILAIHI RAJI'UN.....
QS. Al Anbiya' (21): 34-35
Kami tidak menjadikan HIDUP ABADI bagi seorang manusia pun sebelum kamu (Muhammad), maka jikalau kamu mati, apakah mereka akan kekal?
Tiap-tiap yang BERJIWA akan merasakan MATI, Kami akan menguji kamu dengan keburukan & kebaikan sebagai cobaan.
Dan hanya kepada Kamilah kamu DIKEMBALIKAN....
Ada Hanyalah Kata.
Aku Hanyalah Istilah.
Tuhan Hanyalah Sebutan.
Allah Hanyalah Nama.
Sifat HanyalahTanda.
Dzat Hanyalah Satu/tunggal ( Esa).
Hidup Hanyalah Rasa.
Sempurna Hanyalah Kesadaran.
Semua itu siapa pemilik nya...?
Oleh sebab nyata,
dia datang dan pergi tiba- tiba.....
#iramaqolbu

Comments