Mencintai Tanpa Syarat

Fana dalam Dzikir



Fana' dalam dzikir


•Imam Junaid al-Baghdadi (w. 910 M) 


- Imam Junaid menjelaskan bahwa fana’ bukan berarti hilangnya eksistensi secara fisik, tetapi lenyapnya ego dan kehendak pribadi dalam kehendak Allah.


-Imam Junaid menjelaskan bahwa fana' adalah hilangnya sifat-sifat tercela dan digantikan dengan sifat-sifat terpuji.


Sumber: (Al-Qusyairi, Al-Risalah al-Qusyairiyah, halaman 67)


•Syaikh Abdul Qadir al-Jailani 

(w. 1166 M)

Beliau menekankan pentingnya dzikir dan mujahadah (perjuangan spiritual) untuk mencapai keadaan fana’.


- Ketika engkau sibuk dengan dzikir dan hatimu dipenuhi dengan-Nya, maka yang selain Dia akan sirna dari hatimu.


Sumber: (Syaikh Abdul Qadir al-Jailani, Futuh al-Ghaib, halaman 172)


•Jalaluddin Rumi (w. 1273 M) 

Rumi menggambarkan keadaan fana' dalam puisinya, mengibaratkan jiwa manusia seperti lilin yang mencair dalam cahaya cinta Ilahi.


Sumber: (Jalaluddin Rumi, Diwan-e Shams-e Tabrizi, Ghazal 305)


•Syaikh Ahmad Tijani

(w. 1815 M)

Menurut beliau, dzikir yang sempurna membawa seseorang kepada maqam ihsan, di mana ia menyadari bahwa dirinya tidak memiliki kekuatan apa pun selain dari Allah.


Sumber: (Syaikh Ahmad Tijani, Jawahir al-Ma'ani, Juz 1, halaman 120)


•Syaikh Bahauddin Naqsyaband 

(w. 1389 M) 

-Beliau mengajarkan konsep Khalwat dar Anjuman (kesendirian dalam keramaian), yaitu seseorang bisa mencapai fana' meskipun ia berada di tengah orang banyak.


Sumber: Syaikh Bahauddin Naqsyaband, (Maqamat-i Baha'uddin, halaman 45)


• Dari berbagai pandangan ini, para Imam Thariqah sepakat bahwa dzikir yang mendalam dapat mengantarkan seseorang pada fana’, yaitu lenyapnya kesadaran ego dan yang tersisa hanyalah kesadaran akan Allah.


Namun, mereka juga mengajarkan bahwa setelah fana’, seseorang harus mencapai baqa’, yaitu kembali hidup dengan kesadaran penuh sebagai hamba Allah yang menjalankan.

Comments